Pengadilan Belgia akan menuntut mantan diplomat terkait kasus Patrice Lumumba

Brussels, Belgia – Seorang mantan diplomat Belgia berusia 93 tahun, Étienne Davignon, ditetapkan untuk diadili terkait dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Republik Kongo yang baru merdeka, pada tahun 1961. Keputusan ini diambil oleh pengadilan Brussels yang menyatakan bahwa Davignon akan menghadapi tuduhan kejahatan perang.

Davignon merupakan satu-satunya dari sepuluh orang Belgia yang dituduh oleh keluarga Lumumba atas keterlibatannya dalam pembunuhan tersebut yang masih hidup. Ia diduga terlibat dalam tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia.

Keputusan ini muncul setelah pengacara Brussels mengajukan rujukan mengejutkan pada bulan Juni lalu, dan meskipun ada kemungkinan banding terhadap keputusan ini, Davignon yang pernah menjabat sebagai wakil presiden Komisi Eropa, telah membantah semua tuduhan tersebut.

Keluarga Lumumba Menyambut Keputusan Ini

Keluarga Lumumba menyatakan bahwa keputusan ini adalah langkah signifikan dalam pencarian keadilan. Yema Lumumba, cucu dari pemimpin yang dibunuh tersebut, mengungkapkan bahwa meskipun waktu telah berlalu, pencarian kebenaran dan akuntabilitas tetap penting. “Sistem hukum Belgia harus mulai menghadapi tanggung jawabnya terkait peristiwa yang terjadi pada masa kolonial,” ujarnya.

Preseden Sejarah dalam Keadilan Kriminal

Keputusan ini juga dipuji oleh pengacara keluarga Lumumba sebagai preseden bersejarah dalam keadilan kriminal untuk kejahatan yang diduga terjadi di bawah kekuasaan kolonial Eropa. Jika pengadilan dilanjutkan, Davignon akan menjadi pejabat Belgia pertama yang diadili terkait pembunuhan Lumumba yang terjadi 65 tahun yang lalu.

Pengadilan juga memperluas ruang lingkup kasus ini untuk memasukkan teman-teman Lumumba, Maurice Mpolo dan Joseph Okito, yang juga dibunuh bersamanya. Tuduhan kejahatan perang terhadap Davignon meliputi tiga hal: pemindahan ilegal Lumumba dan rekannya dari Léopoldville (sekarang Kinshasa) ke Katanga, perlakuan yang merendahkan martabat, serta penolakan terhadap hak atas pengadilan yang adil.

Pentingnya Mempertanggungjawabkan Sejarah

Christophe Marchand, pengacara keluarga Lumumba, menegaskan bahwa keputusan ini penting untuk menunjukkan bahwa waktu tidak dapat menghapus tanggung jawab hukum atas kejahatan terberat. Lumumba, pada saat dibunuh, berusia 35 tahun dan dieksekusi dengan tembakan, bersama dua politikus terkemuka lainnya. Pembunuhan ini dilakukan oleh separatis di wilayah Katanga dengan dukungan tentara bayaran Belgia.

Davignon tiba di Kongo yang saat itu masih menjadi koloni Belgia sebagai magang diplomatik pada usia 28 tahun, menjelang kemerdekaan pada tahun 1960. Meskipun mempunyai karier yang cemerlang dalam politik dan bisnis, Davignon tidak hadir di sidang yang berlangsung di Palais de Justice di Brussels.

Johan Verbist, pengacara Davignon, menyatakan bahwa terlalu awal untuk berkomentar mengenai keputusan tersebut, tetapi ia akan menganalisis kemungkinan untuk mengajukan banding. Verbist juga menolak tuduhan kejahatan perang dalam sidang tertutup pada bulan Januari lalu, dan berargumen bahwa waktu yang wajar untuk mengadili kasus ini telah berlalu.

Pada tahun 2001, sebuah penyelidikan parlemen menyimpulkan bahwa para menteri Belgia memiliki tanggung jawab moral atas peristiwa yang mengarah pada kematian Lumumba yang kejam. Sebagai simbol permintaan maaf, Belgia mengembalikan gigi emas milik Lumumba kepada keluarganya pada tahun 2022, yang sebelumnya disimpan sebagai barang kenang-kenangan oleh salah satu orang Belgia yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Perdana Menteri Belgia saat itu, Alexander De Croo, mengulangi tanggung jawab moral negaranya atas pembunuhan Lumumba dalam sebuah acara untuk menandai pengembalian gigi tersebut. “Para menteri, diplomat, dan pejabat Belgia mungkin tidak berniat untuk membunuh Patrice Lumumba, tetapi mereka seharusnya menyadari bahwa pemindahannya ke Katanga membahayakan nyawanya,” jelasnya.

Kesimpulan

Kasus ini menjadi titik balik penting baik untuk keadilan bagi keluarga Lumumba maupun untuk pengakuan sejarah yang lebih luas tentang tindakan kolonial yang terjadi di Kongo. Proses hukum yang berlangsung di Belgia dapat menjadi langkah awal untuk mempertanggungjawabkan sejarah kelam, yang sampai saat ini masih mempengaruhi hubungan antara Belgia dan bekas koloni mereka, Kongo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP