Perusahaan Inggris dan perbudakan di Brasil, sejarah yang terlupakan

Pada tahun 1845, di tengah upaya global untuk menghapuskan perbudakan, perusahaan Inggris masih terlibat dalam praktik tersebut di Brasil. Meskipun warga dan perusahaan Inggris dilarang secara hukum memiliki atau membeli orang yang diperbudak di luar negeri, pada tahun itu tercatat 385 orang yang dijadikan budak “dipindahkan” ke sebuah perusahaan tambang Inggris bernama St John d’El Rey.

Langkah ini tidak dianggap ilegal karena mereka tidak dijual, melainkan “disewa” – praktik yang diperbolehkan di luar negeri berdasarkan Undang-Undang Perdagangan Budak tahun 1843.

Keterlibatan Inggris dalam Perbudakan Brasil

Menurut sejarawan Joseph Mulhern, kasus ini menjadi salah satu contoh paling terkenal dari keterlibatan Inggris dalam perbudakan ilegal di Brasil dan menunjukkan bagaimana, meskipun Undang-Undang Penghapusan Perbudakan Inggris pada tahun 1833, warga dan perusahaan Inggris terus meraih keuntungan dari perbudakan di negara terbesar di Amerika Latin itu selama setengah abad berikutnya.

Mulhern, yang baru saja menerbitkan buku berjudul British Entanglement with Brazilian Slavery – Commerce, Credit and Complicity in Another Empire, c. 1822–1888, menjelaskan bahwa hubungan antara Inggris dan perbudakan Brasil sering kali diabaikan. Dia mencatat bahwa warga Inggris belajar tentang peran negaranya dalam perbudakan dengan narasi yang seolah-olah memuji diri sendiri, seakan Inggris adalah “penilai moral” dalam penghapusan perdagangan budak, meskipun sebenarnya Inggris merupakan salah satu negara terbesar yang terlibat dalam perdagangan budak.

Perdagangan Budak yang Terabaikan

Pada tahun 1831, setelah tekanan besar dari Inggris, Brasil melarang perdagangan budak Afrika. Namun, setelah sekitar lima tahun, undang-undang ini diabaikan secara luas, bahkan dikenal sebagai undang-undang “untuk dilihat oleh Inggris” – istilah yang masih digunakan hingga kini untuk merujuk pada tindakan yang hanya dilakukan untuk kepentingan penampilan.

Dalam bukunya, Mulhern menunjukkan bahwa pengabaian undang-undang ini dimungkinkan oleh para pedagang Inggris di Brasil yang, dengan menyuplai barang dan kredit jangka panjang, memungkinkan munculnya kelas baru penjual budak yang beroperasi secara ilegal. Dia menulis, “Pejabat Inggris di Brasil dan atasan mereka di London sangat menyadari hubungan rumit antara kepentingan komersial Inggris dan perdagangan budak Brasil.”

Akibat dari Perdagangan Budak

Perdagangan ini baru benar-benar berakhir pada tahun 1850 dengan undang-undang baru – ironisnya, juga di bawah tekanan Inggris – tetapi hanya setelah sekitar 750.000 orang Afrika dibawa secara ilegal ke Brasil sejak 1831. Penelitian awal Mulhern di Universitas Durham mengungkapkan bagaimana bank-bank Inggris memperoleh keuntungan dari perbudakan di Brasil.

Institusi keuangan Inggris memperlakukan orang yang diperbudak sebagai “aset jaminan” untuk pinjaman dan hipotek. Ketika debitor gagal membayar, bank memaksa lelang untuk mendapatkan kembali modal mereka – dalam salah satu lelang di Rio de Janeiro pada tahun 1878, seorang ibu berusia 22 tahun bernama Caetana terpaksa terpisah dari putranya yang berusia tiga tahun, Pio.

Pengaruh Pemikiran Abolisionis

Skandal mengenai orang yang diperbudak yang “disewa” ini terungkap oleh tokoh abolisionis Brasil terkemuka, Joaquim Nabuco, dan dianggap sebagai salah satu peristiwa yang memicu Brasil untuk menghapuskan perbudakan pada tahun 1888 – menjadikannya sebagai negara terakhir di Amerika yang melakukannya. Meskipun sebagian besar orang yang diperbudak yang dimiliki oleh warga Inggris adalah milik perusahaan besar, banyak pedagang kecil yang juga terlibat, termasuk pemilik sebuah pub.

Kesesuaian Kisah Ini untuk Pembaca Indonesia

Dalam konteks Indonesia, memahami sejarah keterlibatan perusahaan asing dalam praktik perbudakan dan eksploitasi sumber daya dapat memberikan pelajaran berharga tentang tanggung jawab sosial dan pentingnya kesadaran akan sejarah. Seiring dengan meningkatnya kesadaran global akan hak asasi manusia dan keadilan sosial, kisah-kisah seperti ini harus menjadi pengingat bagi kita untuk terus berjuang melawan segala bentuk penindasan.

Kesimpulan

Kasus keterlibatan Inggris dalam perbudakan di Brasil mencerminkan kompleksitas hubungan perdagangan dan moralitas. Meskipun undang-undang telah ditetapkan untuk menghapuskan praktik tersebut, kenyataannya adalah bahwa kepentingan ekonomi sering kali lebih kuat daripada komitmen moral. Penting bagi kita untuk terus mengingat sejarah ini agar tidak terulang kembali di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP