Otoritas Kongo-Brazzaville telah meminta Interpol untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Jean-Guy Blaise Mayolas, presiden federasi sepak bola negara tersebut, Fecofoot. Permohonan ini diajukan setelah Mayolas dinyatakan bersalah atas kasus penggelapan dana sebesar $1,1 juta yang dialokasikan oleh FIFA.
Mayolas bersama istri dan anaknya kini menjadi buronan setelah ketiganya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup bulan ini. Mereka terlibat dalam penggelapan dana yang diberikan oleh badan sepak bola dunia sebagai bagian dari rencana bantuan Covid-19 pada Februari 2021. Sebagaimana diungkap oleh The Guardian tahun lalu, sekitar $500.000 dari dana tersebut seharusnya digunakan untuk tim wanita Kongo.
Proses Hukum dan Pelarian Mayolas
Mayolas dan keluarganya diadili secara in absentia dan diyakini telah melarikan diri dari negara itu beberapa minggu sebelum persidangan. Penyelidik mencurigai bahwa mereka mungkin bersembunyi di Kamerun atau Republik Demokratik Kongo. Otoritas setempat dan kepolisian mitra di wilayah tersebut telah diberitahu, dan pihak berwenang bekerja sama dengan unit intelijen keuangan, termasuk Tracfin, unit intelijen keuangan Prancis, untuk membekukan aset yang terkait dengan kasus ini.
Pada 10 Maret, Mayolas beserta sekjennya, Badji Mombo Wantete, dan bendaharanya, Raoul Kanda, dijatuhi hukuman atas tuduhan pencucian uang, pemalsuan, penggunaan dokumen palsu, dan penggelapan. Wantete dan Kanda masing-masing dijatuhi hukuman lima tahun penjara.
Tindak Lanjut FIFA dan Dampaknya
FIFA telah membuka proses disipliner terhadap Mayolas, Wantete, dan Kanda pekan lalu terkait dugaan pelanggaran keuangan. Tuduhan yang sedang dipertimbangkan mencakup konflik kepentingan, pemalsuan, dan penerimaan hadiah yang tidak tepat, setelah komite etika FIFA menerima informasi dan dokumen selama peninjauan.
Dugaan menyebutkan bahwa sejak terpilih sebagai presiden Fecofoot pada 2018, Mayolas menggunakan serangkaian perusahaan fiktif untuk menggelapkan dana dari FIFA. Sebuah pernyataan yang ditandatangani oleh para presiden klub wanita di liga tertinggi Kongo yang dikirimkan kepada otoritas Kongo pada bulan Maret menyebutkan bahwa hanya $20.000 dari total $500.000 yang dikirim FIFA kepada Fecofoot pada 2021 sebagai bagian dari rencana bantuan Covid-19 yang benar-benar dicairkan.
Mayolas membantah semua tuduhan sebelum menghilang, menganggapnya sebagai konspirasi. Wantete juga menolak tuduhan tersebut. Pada tahun 2015, mereka dijatuhi larangan enam bulan dari FIFA karena pelanggaran etika terkait hadiah dan manfaat.
Imbas bagi Sepak Bola Kongo
Mayolas telah diberhentikan oleh kementerian olahraga negara itu tahun lalu setelah diselidiki atas kasus penipuan. FIFA terpaksa melarang Kongo dari kompetisi sepak bola internasional karena “interferensi pihak ketiga”, yang mengakibatkan mereka harus menyerahkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Tanzania dan Zambia dengan kekalahan 0-3.
Kongo baru saja dipulihkan setelah Fecofoot diperbolehkan untuk kembali mengendalikan markasnya di Brazzaville, meskipun Mayolas dan Wantete dilarang untuk melakukan perjalanan ke kongres FIFA di Paraguay dan ditangkap beberapa hari kemudian.
Kesimpulan
Kasus ini menunjukkan betapa seriusnya masalah penggelapan dana di dunia sepak bola, terutama dalam situasi krisis seperti pandemi Covid-19. Sangat penting bagi otoritas Kongo untuk menegakkan hukum dan memastikan bahwa para pelaku kejahatan ini dipertanggungjawabkan, tidak hanya untuk kepentingan sepak bola di negara tersebut, tetapi juga untuk menjaga integritas olahraga secara global.
