TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa mengklarifikasi bahwa ia tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya, meskipun keadaan konflik militer dengan Amerika Serikat semakin meningkat. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita IRNA, Pezeshkian menegaskan, “Jika saya akan mundur, saya akan mengumumkannya secara terbuka. Saya tidak akan mundur, dan saya akan melanjutkan perjuangan ini.”
Pernyataan ini muncul sebagai bantahan terhadap laporan yang disebarkan oleh media oposisi Iran yang mengklaim bahwa Pezeshkian telah beberapa kali mengajukan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Pezeshkian juga menolak kabar mengenai adanya ketegangan antara dirinya, Khamenei, dan angkatan bersenjata Iran, menegaskan bahwa semua pihak bekerja dalam keselarasan penuh. “Semua orang tahu bahwa jika ada perbedaan pendapat, angkatan bersenjata akan berdiri bersama Khamenei,” ujarnya.
Ketegangan antara Iran dan AS mulai memanas sejak Februari lalu saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran. Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan rudal dan drone yang menargetkan negara-negara Teluk yang menampung instalasi militer AS. Meskipun AS dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata pada bulan April dan menandatangani memorandum perdamaian yang dimediasi Pakistan pada bulan Juni untuk menghentikan permusuhan dan membangun dasar bagi kesepakatan yang lebih luas, gencatan senjata tersebut tidak bertahan lama.
Kesepakatan itu runtuh bulan lalu setelah AS dan Iran terlibat dalam hampir dua minggu serangan timbal balik. Presiden AS, Donald Trump, kemudian menghentikan serangan udara secara mendadak di tengah munculnya laporan tentang upaya diplomatik untuk meredakan konflik yang berkepanjangan ini. Situasi ini menunjukkan kompleksitas dan ketegangan yang masih menyelimuti hubungan antara kedua negara.
