Paus Leo XIV telah tiba di Aljazair, menandai kunjungan pertama seorang paus ke negara tersebut. Kunjungan ini merupakan langkah untuk menyerukan perdamaian, sekaligus menyampaikan pesan bahwa Afrika semakin menjadi fokus utama Gereja Katolik.
Perjalanan selama 11 hari ini akan meliputi beberapa negara, termasuk Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa, dan menjadi perjalanan terpanjang Paus Leo sejak terpilih menjadi paus pada Mei tahun lalu.
Pentingnya Kunjungan Ini
Pemilihan Afrika sebagai tujuan kunjungan mengirimkan sinyal kuat bahwa benua ini menjadi salah satu prioritas utama Gereja, seperti yang disampaikan oleh para akademisi dan teolog. Menurut Adriaan van Klinken, profesor agama dan studi Afrika di Universitas Leeds, kunjungan ini mencerminkan perubahan demografis. Afrika memiliki populasi Katolik yang tumbuh pesat, dengan sekitar 20% dari total umat Katolik di seluruh dunia. Sementara itu, jumlah umat Katolik di Eropa Barat menunjukkan penurunan.
“Afrika adalah tempat yang penuh vitalitas, pertumbuhan, dan masa depan Gereja,” ungkap Van Klinken.
Dalam setahun terakhir, 14 keuskupan baru telah dibentuk di seluruh Afrika, dan populasi Katolik tumbuh sebanyak 7 juta jiwa, menurut John Pontifex dari badan amal Katolik Aid to the Church in Need UK. “Fokus pada Afrika di awal masa kepausan Paus Leo mencerminkan kesadaran bahwa dalam konteks Katolik, benua ini sedang menuju kedewasaan,” tambahnya.
Ritual dan Simbol Perdamaian
Setibanya di bandara internasional Algiers pada hari Senin, Paus Leo disambut oleh Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune. Ia kemudian dibawa ke Maqam Echahid, sebuah monumen yang memperingati mereka yang gugur dalam perang kemerdekaan Aljazair melawan penjajahan Prancis antara 1954-1962.
Pastor Peter Claver Kogh, rektor Basilika Bunda Afrika di Algiers, menggambarkan kunjungan ini sebagai momen untuk memperkuat hubungan antara komunitas Kristen dan Muslim, serta menegaskan “keinginan untuk menciptakan iklim perdamaian dan toleransi antara kedua agama ini.”
“Itulah yang dibutuhkan dunia saat ini – sebuah dunia yang hidup dalam persaudaraan dan harmoni. Ini akan menjadi hal terpenting dari kunjungan ini bagi umat Kristen dan Muslim di sini, serta bagi semua yang ingin hidup dalam damai dan harmoni,” tambahnya.
Melanjutkan Warisan Paus Sebelumnya
Bagi Austen Ivereigh, seorang biografer Paus Fransiskus, perjalanan ini menunjukkan kesinambungan dengan prioritas pendahulunya. Pada tahun 2019, Fransiskus membuat terobosan dengan menandatangani dokumen “persaudaraan manusia” bersama tokoh-tokoh Muslim terkemuka. “Leo ingin melanjutkan aliansi penting ini dalam membangun tatanan dunia baru yang damai,” ungkap Ivereigh.
Pontifex juga menekankan bahwa kunjungan ini bukan hanya tentang hubungan antaragama, tetapi juga sebagai tanda komitmen paus terhadap kebebasan beragama dan keyakinan. “Kunjungan ini datang pada saat kebebasan beragama di Aljazair, baik untuk umat Kristen, Muslim Ahmadi, maupun Muslim yang lebih liberal, telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Menyoroti Ketidakadilan dan Eksploitasi
Kunjungan ini juga dilihat sebagai kesempatan untuk memberikan sorotan kepada komunitas-komunitas yang memiliki sejarah panjang dalam ketidakadilan dan eksploitasi, yang sering diabaikan oleh dunia Barat. Lucy Esipila, koordinator regional Caritas Africa, menyatakan keyakinannya bahwa kunjungan paus akan memberikan dampak mendalam bagi komunitas Katolik di wilayah tersebut. “Di tengah banyak negara Afrika yang terus menghadapi konflik, beban utang, dan ketidaksetaraan yang semakin melebar, perjalanan apostolik ini merupakan ungkapan kuat dari sinodalitas, yaitu ‘berjalan bersama’ sebagai gereja global yang mendengarkan suara dari pinggiran,” ujarnya.
Signifikansi Aljazair bagi Paus Leo
Aljazair adalah satu-satunya negara dengan mayoritas Muslim dalam rangkaian kunjungan paus. Meskipun populasi Katolik di negara ini relatif kecil, Aljazair memiliki makna khusus bagi Paus Leo sebagai tempat kelahiran Santo Agustinus. Leo adalah paus pertama yang berasal dari ordo Agustinus, sebuah tradisi teologis yang menekankan komitmen untuk “hidup bersama dalam harmoni.”
Dengan demikian, kunjungan ini tidak hanya menjadi momen penting bagi Gereja Katolik, tetapi juga bagi hubungan antaragama dan upaya menciptakan perdamaian di dunia yang semakin kompleks.
