Kelahiran kembar gorila gunung di DRC, spesies terancam punah yang dilindungi

Kelahiran kembar gorila gunung kembali terjadi di Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo (DRC). Peristiwa ini disambut dengan antusiasme oleh para konservasionis sebagai sebuah kejadian luar biasa untuk primata yang terancam punah ini.

Setelah hanya dua bulan sejak penemuan kembar gorila gunung pertama oleh para penjaga taman di kawasan massif Virunga di timur DRC, kini dua bayi gorila yang baru lahir, satu jantan dan satu betina, ditemukan dalam keluarga Baraka, yang merupakan kelompok gorila gunung dengan 19 anggota yang menjelajahi hutan hujan di dataran tinggi tersebut.

Monitoring Khusus untuk Bayi Gorila

Para penjaga taman telah meningkatkan pengawasan terhadap kedua bayi gorila ini untuk membantu mereka melewati bulan-bulan awal yang kritis. Kelahiran kembar sangat jarang terjadi pada gorila gunung, dengan angka kurang dari 1% dari total kelahiran, dan biasanya memberikan beban ekstra bagi sang induk.

Risiko Kematian Tinggi pada Bayi Gorila

Subspesies gorila ini hanya terdapat di dua lokasi terisolasi, yaitu massif Virunga dan Taman Nasional Bwindi yang tidak dapat ditembus di Uganda barat daya. Mereka menghadapi tingkat kematian bayi yang tinggi, di mana sekitar seperempat dari mereka menjadi korban penyakit, trauma, atau infanticide.

Pada bulan Januari, Taman Nasional Virunga mengumumkan bahwa seekor gorila betina bernama Mafuko telah melahirkan kembar. Saat ini, bayi jantan tersebut berusia 11 minggu dan dilaporkan dalam kondisi baik, dengan gorila lainnya di kelompok itu membantu merawat induknya untuk mendukung proses perawatan.

Peran Konservasi dalam Pertumbuhan Populasi

Jacques Katutu, kepala pemantauan gorila di Virunga, menyatakan, “Dua kejadian kelahiran kembar dalam waktu tiga bulan merupakan peristiwa luar biasa dan menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan dengan penuh dedikasi, meski di tengah ketidakstabilan di timur Kongo, terus mendukung pertumbuhan populasi gorila gunung yang terancam punah di Taman Nasional Virunga.”

Perawatan veteriner yang khusus telah berperan penting dalam pemulihan subspesies ini. Di Rwanda, Uganda, dan DRC, organisasi seperti Gorilla Doctors telah mencegah puluhan kematian dengan membantu hewan-hewan yang terkena dampak perilaku manusia, seperti melepaskan gorila yang secara tidak sengaja terjebak dalam perangkap pemburu. Satu studi menunjukkan bahwa separuh dari peningkatan populasi gorila gunung disebabkan oleh peran dokter hewan.

Perjuangan di Tengah Ancaman

Hanya tersisa sekitar 250 gorila gunung pada tahun 1970-an, dan banyak yang mengira hewan-hewan ini akan punah. Namun, berkat dekade kerja konservasi yang intensif, jumlah populasi berhasil melampaui 1.000 pada tahun 2018, dan otoritas konservasi telah menurunkan status subspesies ini dari sangat terancam menjadi terancam punah.

Namun, bagian DRC dari pegunungan Virunga tetap menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi para penjaga satwa liar. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 220 penjaga telah terbunuh di taman ini, di mana kelompok bersenjata seperti M23 dan milisi lainnya, serta penjahat, beroperasi dengan tanpa rasa takut.

Kesimpulan

Kelahiran kembar gorila gunung di DRC memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian spesies ini. Peristiwa ini menunjukkan hasil positif dari upaya konservasi yang terus dilakukan, meskipun tantangan di lapangan tetap besar. Diharapkan, dengan dukungan yang berkelanjutan, populasi gorila gunung dapat terus meningkat dan terlindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP