Aktor sekaligus mantan penari balet, Charlize Theron, baru-baru ini menanggapi komentar kontroversial dari Timothée Chalamet yang dinilai merendahkan dua bentuk seni, balet dan opera. Dalam sebuah wawancara dengan New York Times, Theron mengungkapkan harapannya untuk bertemu Chalamet suatu hari nanti, sembari mengkritik pernyataannya yang dianggap sembrono.
Pernyataan Kontroversial Chalamet
Chalamet, dalam sebuah diskusi video dengan sesama aktor Matthew McConaughey pada bulan Februari lalu, menyatakan, “Saya tidak ingin bekerja di balet atau opera … Hal-hal yang seolah-olah, ‘Hey, jaga agar ini tetap hidup, meskipun tidak ada yang peduli lagi.'” Komentar ini langsung menuai protes dari sejumlah tokoh terkenal, termasuk Jamie Lee Curtis, Misty Copeland, dan Eva Mendes, yang mengecam pandangannya terhadap seni pertunjukan ini.
Reaksi Charlize Theron
Theron, yang pernah menempuh pendidikan balet di Joffrey Ballet di New York, menyoroti kesulitan yang dialami para penari. Ia menyatakan, “Itu adalah komentar yang sangat sembrono terhadap dua bentuk seni yang perlu kita angkat terus-menerus karena, ya, mereka memang mengalami kesulitan. Namun dalam 10 tahun ke depan, AI akan mampu melakukan pekerjaan Timothée, tetapi tidak akan bisa menggantikan orang yang menari di atas panggung secara langsung.”
Lebih lanjut, Theron juga menceritakan pengalaman pahitnya sebagai penari balet. “Saya pernah mengalami infeksi darah akibat luka yang tidak kunjung sembuh. Saya berbicara tentang berdarah melalui sepatu saya. Itu mengajarkan saya untuk menjadi tangguh. Ini hampir seperti penyiksaan,” ungkapnya.
Dukungan dan Kritikan
Meskipun banyak yang mengkritik komentar Chalamet, sutradara asal Italia, Luca Guadagnino, yang pernah bekerja sama dengan Chalamet dalam film Call Me By Your Name, membela sang aktor. Ia mempertanyakan bagaimana satu komentar bisa menjadi polemik global. Namun, reaksi negatif dari banyak kalangan menunjukkan betapa pentingnya menghargai seni pertunjukan dan para pelakunya.
Konteks Pribadi Theron
Dalam wawancara tersebut, Theron juga berbagi pengalaman masa kecilnya di Afrika Selatan, termasuk tragedi yang menimpa keluarganya. Ia menceritakan tentang kematian ayahnya yang tertembak oleh ibunya dalam tindakan membela diri. Theron mengenang bagaimana saat itu, ia dan ibunya berjuang untuk melindungi diri dari serangan ayahnya.
“Dia menembak melalui pintu baja untuk masuk, membuatnya sangat jelas bahwa dia ingin membunuh kami. Ibu saya dan saya memegangi pintu dengan tubuh kami karena tidak ada kunci. Ajaibnya, tidak ada satu peluru pun yang mengenai kami,” jelasnya.
Setelah insiden tersebut, ibunya tidak dihukum karena dianggap bertindak dalam pembelaan diri. Theron menambahkan, “Keesokan harinya, dia mengirim saya ke sekolah. Dia hanya bilang, kita akan melanjutkan hidup. Mungkin bukan pilihan yang paling sehat, tapi itu berhasil bagi kami.”
Kesimpulan
Komentar Timothée Chalamet dan reaksi dari Charlize Theron serta tokoh lainnya menunjukkan betapa pentingnya menghargai seni dan perjuangan yang dialami para seniman. Diskusi ini bukan hanya soal dua bentuk seni yang mungkin dianggap usang, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menghargai dan mendukung para pelaku seni di tengah tantangan zaman. Seiring dengan perkembangan teknologi, penting bagi kita untuk tetap mengapresiasi nilai dari seni pertunjukan.
